Tahan 7 Warga Tambusai Utara, Mapolres Rohul Didatangi Ratusan Warga

0

ROHUL, AMIRARIAU.COM-Ratusan warga Desa Payung Sekaki dan Desa Pagar Mayang, Tambusai Utara, mendatangi Mapolres Rohul, Jumat malam (23/10), pukul 20.00 WIB.

Warga dari dua desa itu menuntut pihak Kepolisian melepaskan 5 warga mereka, yakni, Rizal, Dian, Rohani, Riono, dan Agus.

Selain itu, warga juga menuntut dua supir truk dari Desa Batang Kumu Kecamatan Tambusai, yakni, Iwan dan Amin, yang turut diamankan Polisi tanpa alasan, saat mereka mengangkut kelapa sawit milik warga.

Setiba di Polres, warga diterima Kasat Binmas AKP Remil Simamora, Kasat Narkoba AKP Seno Ariadi, Kasat Sabhara AKP Ali Imran, dan beberapa perwira Polres Rohul lainnya di halaman Mapolres.

Menurut warga, sekira 7 ton tandan buah segar (Tbs) kelapa sawit yang diangkut menggunakan dua truk merupakan sawit yang dipanen puluhan warga dari kebun mereka di Desa Pagar Mayang yang pernah di-pola mitrakan dengan PT Merangkai Artha Nusantara (MAN) pada 1995 silam. Namun perjanjian sudah habis.

Awalnya, warga DK-3 SKPE Payung Sekaki dan warga DK-2 SKPE Pagar Mayang ini sempat datangi ke Mapolsek Tambusai Utara, karena lima warga sudah dibawa ke Mapolres, mereka lantas ke Mapolres di Pasirpangaraian.

Menurut warga, 5 warga dan 2 supir truk, beserta buah 7 ton dan alat kerja warga diamankan anggota Polsek Tambusai Utara, Jumat siang sekira pukul 13.00 WIB di lahan milik warga yang diakui sudah bersertifikat dan SKT. Mereka diamankan saat sedang panen sawit.

”Kami datang kesini meminta tujuh warga yang diamankan tadi (siang) dilepaskan, termasuk alat kerja, buah kelapa sawit dan dua truknya,” ujar juru bicara warga, Samsudi di Mapolres Rohul.

Samsudi menuturkan, lahan sekira 154 hektar di Desa Pagar Mayang merupakan milik warga tiga desa, yakni warga Payung Sekaki, Pagar Mayang, dan Mahato Sakti. Ratusan hektar lahan dimitrakan dengan PT MAN sejak 1995 silam.

Namun sesuai perjanjian, seharusnya pola kemitraan sudah berakhir, dan lahan dibagikan ke warga sebagai pemiliknya. Namun, lahan itu masih dikuasai pihak perusahaan.

”Harapannya yang jelas harapan masyarakat masalah ini bisa selesai secepatnya, dan lahan dikembalikan ke masyarakat,” minta Samsudi.

”Untuk tujuh rekan kami yang diproses dikembalikan ke rumah masing-masing, termasuk alat kerja yang dijadikan barang bukti dan kembali ke haknya, beserta mobil dan buahnya,” tambah Samsudi.

Warga selama ini terus berjuang mempertahankan lahan mereka. Sayangnya, mereka tidak didukunh Kepala Desa sendiri.

Warga juga mengeluhkan perlakuan aparat Polisi yang terkesan pilih kasih. Saat warga melaporkan masalah lahan baik ke Polsek Tambusai Utara dan Polres Rohul tak pernah ditanggapi.

”Namun ketika PT MAN yang melapor, polisi cepat menangkap warga, padahal mereka sudah punya bukti kepimilikan yang kuat,” tandas warga lain. (Yus)