Riau Bisa Seperti New York, Beraktivitas Tanpa Masker Bila Terbangun Herd Immunity

0
Suasana jumpa pers terkait pentingnya vaksinasi untuk meningkatkan herd immunity pada Jumat (18/06). (Sumber : Zulfa Amira)
Pekanbaru (AmiraRiau.com) – Kasus Covid-19 di Riau semakin meningkat bahkan tertinggi di Sumatera. Kendati pemerintah Provinsi Riau telah menyediakan rumah isolasi yang bisa digunakan pasien untuk isolasi, namun kapasitas ruangan di rumah sakit untuk pasien dengan keluhan sesak nafas mulai penuh.
Hal ini tentu berbeda jauh dengan yang terjadi di New York, warganya bisa beraktifitas bebas tanpa menggunakan masker karena telah terbangun herd immunity.
“Bukti nyata bahwa vaksinasi bekerja adalah yang sudah dilaksanakan di New York yang mencapai 70% dan sudah bisa berkegiatan tanpa menggunakan masker lagi karena mayoritas imunnnya sudah kuat,” jelas  dokter spesialis jantung, dr. Dasdo Antonius Sinaga, Sp.JP.
Penekanan kasus Covid-19 dapat ditekan dengan ditingkatkannya jumlah vaksinasi.  Vaksinasi adalah virus yang dilemahkan dengan melakukan injeksi ke bawah lengan agar tubuh membentuk antibodi.
“Tujuan vaksinasi adalah untuk mengenalkan tubuh dengan kuman tertentu sehingga tubuh memproduksi tentara/antibodi, herd immunity untuk melawan virus,” kata dr. Dasdo.
Perlu didorong pelaksanaan vaksinasi meski harus berbanding lurus dengan jumlah dosis vaksin yang tersedia. Saat ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan berbagai upaya untuk melakukan vaksinasi massal baik melalui vaksinasi di puskesmas, golongan prioritas,  vaksinasi gotong royong, maupun bus vaksinasi keliling seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Pekanbaru.  Target penerima vaksinasi untuk membangun herd immunity adalah di atas 70% dari jumlah penduduk.
“Setiap warga yang ingin divaksin cukup menunjukkan KTP Kota Pekanbaru untuk mendapatkan vaksinasi di bus vaksin keliling,” jelas Walikota Pekanbaru, Firdaus, ST., MT saat melepas keberangkatan bus vaksin keliling pada Senin (07/06).
Ada beberapa hal yang harus tetap diperhatikan oleh orang yang telah menerima vaksinasi Covid-19 baik itu jenis Cinovac, Cinopharm, atau vaksin lainnya.
Orang yang telah mendapatkan vaksinasi tetap harus menjaga protokol kesehatan dengan baik dan memakai masker dengan benar.  Meski telah mendapatkan vaksinasi, seseorang tetap dapat terinveksi Covid-19 namun dengan gejala yang lebih ringan dan lebih cepat sembuh.
Vaksinasi diberikan kepada orang dengan usia 17 tahun ke atas. Proses vaksinasi yang pertama pada tubuh akan membentuk antibodi namun belum terlalu banyak. Sedangkan suntikan kedua dianggap sebagai booster. Setelah pengenalan pada tubuh dengan suntikan pertama, diharapkan suntikan kedua kadar antibodi yang diproduksi akan makin tinggi. Tingkat antibodi yang baik akan didapatkan setelah 3 atau 4 minggu vaksinasi kedua.
“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya sebelum vaksin konsultasi secara jelas kepada dokter yang biasa menangani dan tenaga medis yang akan memberikan vaksin secara terus terang dan lengkap,” terang dr. Dasdo pada Jumat (18/06) di Ballroom lantai 12 Hotel Grand Zuri, Pekanbaru.
Pelaksanaan vaksinasi juga mengalami kendala, diantaranya berita hoax yang beredar di masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang menolak vaksin.
Contoh hoax yang beredar di masyarakat adalah orang yang meninggal dunia setelah mendapatkan vaksin. Bila diperiksa secara menyeluruh, bisa saja pasien yang meninggal telah terinveksi saat divaksin namun tidak berkata jujur pada saat screening awal sebelum vaksin.
“Kasus yang meninggal dunia setelah vaksin adalah karena pasien tidak berkata jujur dan menceritakan keluhan atau gejala yang dialami pada saat akan divaksin,” pungkas dr. Dasdo.***

 9 total views,  1 views today