Ratusan Massa Buruh Bentrok di PT KPN

0

ROHUL, AMIRARIAU.COM-Warga di Kecamatan Tambusai, Rokan Hulu (Rohul) terlibat bentrokan dengan buruh bongkar muat di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Kencana Persada Nusantara (KPN) Desa Batang Kumu, Senin (19/10/15).

Informasi yang dihimpun di TKP dan Polsek Tambusai menyebutkan, bentrokan dua massa yang tergabung di dua serikat pekerja itu sejak Senin subuh, diduga karena rebutan lahan kerja bongkar muat di PT KPN.

”Kabarnya rebutan lahan (kerja) bongkar muat bang,” ujar salah seorang warga Tambusai saat dihubungi, Senin.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Rohul AKBP Pitoyo Agung Yuwono melalui Paur Humas Polres Rohul Ipda P. Simatupang membenarkan bentrokan antara buruh dan warga karena rebutan lahan.

Namun demikian, diakui Simatupang, sejauh ini pihak Polres Rohul belum mendapatkan informasi ada korban jiwa.

Dari bentrokan sejak Senin subuh tadi, sebuah mobil milik Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia (F-SPTI) ikut dirusak massa. Selain ban dikempesin, kaca mobil juga dipecah.

Bentrokan serupa sudah beberapa kalinya terjadi di PKS PT KPN Desa Batang Kumu. Sebelumnya, buruh tergabung di dua organisasi buruh berbeda juga terlibat bentrokan.

Sementara itu Ketua Federasi Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (F-SPTI) Rokan Hulu (Rohul) M. Sahril Topan menduga bentrokan antar buruh di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Kencana Persada Nusantara (KPN) Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Senin (19/10/15) subuh, sudah direncanakan.

”Itu penyerangan berencana. Padahal sebelumnya sudah dilakukan mediasi dengan Upika (Tambusai),” ujar Topan saat dihubungi wartawan, Senin.

Topan mengungkapkan saat penyerangan Senin subuh, hanya sekira 20 buruh F-SPTI Rohul yang bekerja. Namun, ratusan orang diduga dari salah satu organisasi lain menyerang buruh lain yang sedang bekerja.

”Informasi awal yang saya terima, ada sekitar tiga atau empat anggota SPTI yang luka akibat lemparan batu,” ungkapnya.

Topan juga anggota Komisi I DPRD Rohul dari Partai Amanat Nasional menerangkan penyerangan dari salah satu organisasi buruh karena rebutan lahan kerja bongkar muat di PKS PT KPN Desa Batang Kumu.

Menurut dirinya, kerja bongkar muat di PT KPN sebelumnya dikelola oleh warga Desa Batang Kumu, karena kisruh antara F-SPTI dengan organisasi buruh lain. Dan sekira satu bulan lalu, melalui mediasi antara dua organisasi buruh bersama Upika di Tambusai, atas rekomendasi DPRD Rohul, untuk kerja bongkar muat diserahkan ke buruh SPTI.

”Sebenarnya buruh dari SPTI sudah normal bekerja. Kami sudah mencoba untuk merekrut orang-orang yang bekerja disitu,” katanya.

Adanya penyerangan diduga direncanakan itu, Topan meminta pihak Kepolisian mengusut tuntas kasus penyerangan tersebut.

”Lebih enam tahun kami sudah mengikuti aturan main. Tapi subuh tadi seperti penyerangan berencana,” tuturnya.

Topan mengakui bahwa dirinya sudah meminta anggota SPTI tidak melakukan balasan. ”Karena kami bekerja disana, bukan untuk berperang,” tandas Topan. (Yus)