Punya SIM dan KTP Indonesia, WN Malaysia Edarkan Sabu di Riau

0
5

Pekanbaru, AmiraRiau.Com-Seorang warga negara Malaysia ditangkap polisi lantaran terlibat peredaran narkoba dengan barang bukti 2 kilogram sabu-sabu. Polisi juga menyita KTP dan SIM palsu dari tangan WNA inisial KH (50) itu.

“Tersangka KH warga Malaysia dengan barang bukti sabu 2 kilogram dan dua identitas palsu,” ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Riau, Kombes Haryono, kepada wartawan, Selasa (18/12), sebagaimana dilansir merdeka.com.

Haryono menyebutkan, pelaku pernah dihukum kasus narkoba di Indonesia pada 2005 lalu. Kemudian di tahun 2010 KH bebas karena masa hukumannya selesai. Namun dia tak jera, kali ini KH kembali terlibat peredaran narkoba dalam jumlah besar.

“Dia ini memperoleh SIM dan KTP itu saat berada di Lampung dengan harga masing-masing Rp1 juta,” kata Haryono.

Terungkapnya kasus ini berawal ketika Polres Rokan Hulu mendapat informasi adanya peredaran narkoba yang akan masuk ke Kabupaten Rokan Hulu dari Kota Pekanbaru. Kemudian, polisi mengatur strategi penangkapan dengan mengintai sebuah mobil yang mencurigakan.

“Petugas melihat mobil HRV melaju di jalan lintas Pekanbaru-Rokan Hulu, lalu langsung dihentikan. Pelaku tidak berkutik saat mobilnya digeledah karena diduga membawa sabu,” kata Haryono.

Ternyata benar, setelah polisi melakukan penggeledahan, petugas menemukan sabu dengan bungkus teh China. Uniknya lagi ini warga Malaysia ini juga punya KTP dan SIM Indonesia. Polisi juga curiga dengan identitas pelaku yang tidak seperti milik warga lainnya.

“Mobilnya juga masih baru, pelat nomor polisi (nopol) masih putih. Kita cek, identitasnya palsu,” kata Haryono.

KH langsung diamankan dan mobilnya disita sebagai barang bukti kejahatan. Sabu 2 kilo itu juga dibawa petugas untuk dilakukan pengembangan. Kepada polisi, pelaku mengakui perbuatannya sebagai pengedar sabu internasional tersebut.

“Tersangka juga telah menikah dengan warga lokal Rokan Hulu. Sementara di tempat asalnya, Johor Baru, Malaysia, dia juga memiliki istri. Jadi dia sering bolak-balik dari Indonesia ke Malaysia,” terang Haryono.

Haryono langsung berkoordinasi dengan Konsulat Malaysia terkait penangkapan warga negaranya itu. Namun, pihak Konsulat menyerahkan proses hukum KH kepada Polri. Negaranya juga tidak akan memberikan pendampingan hukum.

“Konsulat Malaysia tidak memberikan pendampingan hukum kepada warga negaranya yang terlibat narkoba,” jelasnya.

Haryono juga menyelidiki dari mana KH memperoleh identitas palsu itu, termasuk SIM yang biasanya dikeluarkan Kepolisian. Namun, polisi masih fokus pada pengembangan kasus narkoba tersebut karena jumlahnya tidak sedikit.

“Kita masih melakukan pengembangan terkait jaringan narkoba si KH ini. Dari mana dan kepada siapa saja akan dijualnya,” tegas Haryono. (e2)

Ilustrasi. (f: merdeka.com)