Presiden Jokowi Minta Gubernur dan Bupati Atasi Lonjakan Harga Beras di Daerahnya

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti kenaikan harga beras di pasaran. Ia pun meminta kepada pemimpin daerah untuk memperhatikan dan menyelesaikan permasalahan tersebut. Jokowi mengatakan, harga berbagai komoditas pangan di pasaran menunjukan tren penurunan. Namun, hal berbeda justru ditunjukan oleh harga beras.

“Saya senang bahwa harga-harga yang saya pantau di pasar dalam minggu ini saya cek di Pekalongan, saya cek lagi di Palu, semuanya pada posisi menurun, hanya satu yang kita memiliki masalah, di urusan beras,” ujar Presiden, dalam acara Rakornas Pengendalian Inflasi Daerah, di Istana Jakarta, Kamis (31/8/2023).

Menurut orang nomor satu RI itu, kenaikan harga beras dipicu oleh fenomena super el nino yang mengakibatkan kekeringan ekstrem. Fenomena tersebut kemudian mengganggu pasokan beras nasional. Pada saat bersamaan, negara-negara produsen utama beras, seperti India mulai menutup keran ekspornya.

Keputusan tersebut diambil untuk mengamankan pasokan beras masing-masing negara. “Perdana Menteri Hunsen (Kamboja), saya udah ketemu perdana menteri Bangladesh, ketemu juga perdana menteri India, gimana harga beras enggak naik, mereka semua enggak ekspor, pegang untuk keamanan dalam negerinya,” tutur Jokowi.

Oleh karenanya, Jokowi meminta kepada para gubernur, wali kota, serta bupati untuk mengatasi permasalahan kenaikan harga beras di masing-masing daerah. Menurutnya, saat ini harga beras sudah naik sekitar 5 – 6 persen di pasaran. “Tetap harus diwaspadai,” ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan dua penyebab alias biang kerok yang membuat harga beras mahal. Pertama adalah karena adanya persaingan dari pembeli pengusaha dan karena produksi beras yang berkurang.

“Mahal itu karena sekarang persaingan dari pembeli pengusaha,” kata Budi Waseso (Buwas) saat ditemui di Senayan Jakarta, Rabu (16/8/2023). Kedua, memang produksi beras sedang kurang atau turun 5 persen sehingga ada persaingan. Hal itu lantaran ada El Nino.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebelumnya mengatakan bahwa berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, kekeringan lahan pertanian akibat fenomena El Nino ekstrem tahun ini bisa mencapai 560.000-570.000 hektar. Padahal, ketika El Nino lemah hanya sekitar 200.000 hektar.

El Nino berpotensi meningkatkan kebakaran lahan pertanian, gagal panen dan serangan hama penyakit tanaman. Produktivitas hasil pertanian, termasuk produksi beras nasional, diperkirakan turun 15-20 persen. Agar beras tetap tersedia pada saat El Nino menguat dan produksi beras turun, Pemerintah impor 2 juta ton beras untuk mencukupi cadangan beras nasional.***

Menampilkan Gambar dengan HTML gambar