Pilihan Politik

Pilihan Politik

INI saat dimana terjadi pertarungan antara hati nurani dengan realitas. Yang manakah yang akan memenangkan pertarungan, sangat tergantung dengan kemampuan masing-masing individu dalam memainkan logika dan akal sehat, dan tidak terjebak dengan pertimbangan yang berspektif dangkal.

Iven politik lima tahunan, yang untuk kali ini agak spesifik –karena disejalankannya pemilu legislatif dan pemilihan presiden—akan menghadapkan semua individu –yang telah memiliki hak pilih, tentunya—dengan pilihan-pilihan yang tidak mudah.

Setiap pilihan diniscayakan punya resiko, selain juga setiap pilihan akan mendatangkan sejumlah harapan yang diyakini akan lebih baik ke depan.
Ajang pemilihan presiden dan wakil presiden, satu misal, sebanyak dua pasang kandidat yang maju ke arena pertarungan, merupakan putera-putera terbaik bangsa ini.

Mereka merupakan pilihan dari sekitar 165 juta penduduk Indonesia, tentu saja setelah melalui mekanisme yang diatur oleh undang-undang yang berlaku.

Mereka merupakan yang terbaik di antara sekian banyak anak negeri yang bernama Indonesia.

Begitu pun nama-nama yang maju di ajang pemilhan legislatif, baik untuk DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, juga merupakan putera-puteri terbaik dari negeri ini.

Setidaknya, mereka yang saat ini menyandang status sebagai caleg (calon anggota legislatif), adalah yang dinyatakan memenuhi persyaratan untuk merebut kursi di lembaga legislatif/
Oleh karena memenuhi persyaratan formal untuk maju ke arena pertarungan, maka sangat pantas diduga merekalah yang dianggap layak dan pantas untuk menyandang status sebagai wakil rakyat dengan sejumlah jenjang dan tingkatannya itu. Mereka diyakini akan mampu mengemban amanah yang diberikan kalau kelak terplih dan diberi amanah untuk duduk di lembaga legislatif.

Maka, lihatlah apa yang terjadi belakangan ini.

Yaitu, baik calon presiden atau calon wakil presiden maupun para caleg saling berlomba menawarkan banyak hal kepada kita, masyarakat yang pada Pemilu 2019 ini telah mempunyai hak pilih. Berbagai jargon dan janji-janji politik bersilweran di ruang publik, tidak peduli siang atau malam, pagi atau sore; seakan tiada hari tanpa mendengar janji politik.

Kita dibawa ke sebuah ranah yang selama ini seakan hanya ada di angan-angan: hidup yang sejahtera, sembako yang terjangkau, pendidikan murah (bahkan gratis), pelayanan kesehatan untuk semua, penyiapan sejumlah infrastruktir dasar yang diperlukan, kehidupan beragama yang semakin semarak, penyiapan SDM (sumber daya manusia) yang semakin berkualitas, dan sederet “yang indah-indah” lainnya.
Mendengar semua itu, kita seakan “tidak lagi berpijak di bumi,” karena realitas yang ditemui saat ini kontradiktif dengan janji-janji politik yang bersileweran. Yang menjadi pertanyaan: apakah untuk mengubah keadaan bisa dilakukan secara instan? Faktanya, yang sering dihadapi saat ini merupakan rangkaian realitas kehidupan yang sering membuat jidat berkerut.

Tapi, apapun –kendati bukan kewajiban—sebagai warga negara kita memang dituntut untuk memberikan hak pilih. Karena, mengutip pernyataam para petinggi negeri, hak pilih yang kita gunakan akan ikut menentukan masa depan bangsa, setidaknya untuk kurun waktu lima tahun ke depan.
Soal calon presiden dan wakil presiden mana yang akan dipilih, atau caleg mana yang akan dicoblos, diserahkan kepada hati nurani masing-masing kita sebagai calon pemilih. Jangan oleh karena pertimbangan realitas, kemudian pilihan hati nurani dikebelakangkan. Sayang ‘kan?*

*) Penulis adalah Pemimpin Umum/Redaksi Majalah “Pena Amira”

Previous Bupati Inhil Hadiri Haul Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari Ke-82
Next Bupati Inhil Bersama Kapolda Riau Bagikan 4000 Sembako dan 500 Sertifikat Tanah Gratis

About author