Pasar Tradisional di Kecamatan Lima Puluh akan Dijadikan Pasar Budaya

0
58

AmiraRiau.Com –  PEMKO (Pemerintah Kota) Pekanbaru di bawah duet kepemimpinan Walikota Ir. H. Firdaus ST MT dan Wakil Wali Kota H. Ayat Cahyadi S.Si. terus melakukan berbagai terobosan. Selain dimaksudkan untuk kemajuan kota yang juga menyandang predikat sebagai ibukota Provinsi Riau itu, juga dimaksudkan untuk meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat.

Apa yang dilakukan Pemko Pekanbaru di bawah duet kepemimpinan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi sesuai dengan Visi Kota Pekanbaru 2021 yang mengacu dengan Perda Kota Pekanbaru Nomor 1 Tahun 2001, yaitu Terwujudnya Kota Pekanbaru sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa, Pendidikan Serta Pusat Kebudayaan Melayu, Menuju Masyarakat Sejahtera Berlandaskan Iman dan Takwa,”

Untuk percepatan pencapaian visi Kota Pekanbaru 2021 dimaksud,  Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru menetapkan Visi Antara untuk lima (5) tahun kepemimpinannya yaitu: “Terwujudnya Pekanbaru sebagai Kota Metropolitan  yang Madani”.

Untuk mewujudkan Visi tersebut, maka ditetapkan  Misi Kota Pekanbaru yaitu: Pertama : Meningkatkan   kualitas  Sumber  Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi  tinggi, bermoral, beriman dan bertaqwa serta mampu bersaing di tingkat lokal, nasional maupun internasional; dan Meningkatkan   kualitas  Sumber  Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan kemampuan/ keterampilan tenaga kerja,  pembangunan kesehatan, kependudukan dan keluarga sejahtera.

Selanjutnya, Mewujudkan masyarakat berbudaya melayu, bermartabat dan bermarwah yang menjalankan kehidupan beragama, memiliki iman dan taqwa, berkeadilan tanpa membedakan satu dengan yang lainnya serta hidup dalam rukun dan damai; dan  Meningkatkan    infrastruktur     daerah    baik  prasarana jalan, air bersih, enegeri listrik, penanganan limbah  yang sesuai dengan kebutuhan daerah terutama infrastruktur pada kawasan industri, pariwisata serta daerah pinggiran kota.

Berikutnya, Mewujudkan    penataan    ruang dan pemanfaatan lahan yang efektif dan  pelestarian lingkungan hidup dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan; dan Meningkatkan   perekonomian daerah dan masyarakat dengan meningkatkan investasi bidang industri, perdagangan, jasa dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan dukungan fasilitas yang memadai dan iklim usaha yang kondusif.

Tujuan lain yang tidak bisa diabaikan dari berbagai langkah dan upaya membangun Pekanbaru adalah untuk makin mengokohkan Provinsi Riau mencapai visinya sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Pekanbaru yang menyandang status sebagai ibukota Provinsi Riau jelas menyandang beban moral yang amat berat untuk mencapai tujuan dimaksud.

Maka, berbagai langkah dan upaya untuk menjadikan budaya Melayu hidup di tengah masyarakat kota ini terus dilakukan. Pemko Pekanbaru, melalui sejumlah program yang telah dan terus dilaksanakan, intens untuk menjadikan Pekanbaru sebagai kota yang memiliki ciri dan identitas Melayu yang makin nyata.

Untuk mencerminkan budaya Melayu, Pemko Pekanbaru merancang Pasar Limapuluh yang berlokasi di Jalan Sultan Syarif Kasim (SSK) ujung menjadi Pasar Budaya. Keinginan Pemko Pekanbaru memilih Pasar Limapuluh sebagai Pasar Budaya karena lokasinya sangat berdekatan dengan Sungai Siak. Kemudian masyarakat yang tinggal di kawasan ini dalam radius beberapa meter mayoritas penduduk asli orang Melayu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru Ir Hj El Syabrina MP mengatakan, Disperindag sudah melakukan lobi ke Kementerian Perdagangan dengan menjual konsep tersebut. Mulai dari bentuk bangunan yang akan dibuat sampai dengan produk yang akan dijual di Pasar Budaya itu sendiri.

Hasilnya, kata El Syabrina, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan memberikan respon positif. Artinya Kementerian Perdagangan bersedia membantu dengan catatan harus ada Detail Engineering Design (DED)-nya.”Alhamdulillah, tahun ini untuk konsep DED Pasar Budaya sudah dialokasikan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Pekanbaru. Jika proses pembuatan DED-nya bisa diselesaikan oleh Dinas PU, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru akan mengajukan program tersebut kepada Wali Kota Pekanbaru untuk melakukan ekspos bersama ke Kementerian Perdagangan,’’ ungkapnya seperti dilansir Riaupos.

Nantinya kata El Syabrina, di pasar ini ada pasar basahnya, ada pasar untuk sandang juga, mulai dari pakaian, sampai dengan tekstil dan tenunnya.Kemudian pada malam harinya pasar tersebut dijadikan sebagai tempat berjualan makanan kuliner. Sehingga nantinya di pasar tersebut semua yang berciri khas Melayu ada dijual disana.

Dijadikan Pasar Tradisional Lima Puluh menjadi Pasar Budaya juga dimaksudkan agar bisa tetap eksis dan berkembang di era pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal itu diakui oleh Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru, Mas Irba Sulaiman kepada Radio Republik Indonesia.

Dia mengatakan, selama ini pasar tradisional, memiliki segmen pasar khusus, namun terus dikembangkan agar tetap eksis, meskipun berada di tengah pasar bebas MEA. “Konsep pasar yaitu memasukan pasar dengan kesenian, sehingga pasar diharapkan lebih menarik bagi wisatawan mancara negara,” harapnya.

Disamping itu, lanjutnya, basis segmen pasar yang jelas, maka pasar tradisional tetap bisa bertahan dan mampu bersaing dengan menjamurnya pasar moderen yang terus meningkat sejak diberlakukannya MEA. “Keberadaan pasar tradisional tidak mungkin ditiadakan, sebab sebagian besar masyarakat masih berada dalam kondisi menengah ke bawah yang tidak memiliki daya beli di pasar-pasar modern,” urainya.

Mas Ibra juga menjelaskan pemerintah pusat akan mengucurkan dana sebesar Rp10 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Perubahan (APBN-P) tahun ini. “Sudah ada usulan dana Rp10 miliar di APBN-P untuk pembangunan Pasar Seni dan Budaya. Ini merupakan slah satu program kerja Presiden Joko Widodo,” katanya. Pemerintah Kota Pekanbaru juga akan menyertakan dana pendamping Rp400 juta. Sebab, lanjutnya, syarat dana pendamping itu tidak boleh mencapai 5%.

Kondisi Pasar Limapuluh saat ini dalam keadaan terbengkalai. Jadi, dengan adanya revitalisasi tersebut, aset Pemerintah Kota Pekanbaru itu bisa terisi kembali. Di pasar itu akan dibangun 125 kios pedagang yang akan menjual karya seni dan budaya Riau dan mampu menampung puluhan ribu pengunjung. Pasar itu juga bisa menunjang potensi wisata di Kota Pekanbaru.

“Pasar itu menjadi wadah bagi pedagang seni dan budaya seperti lukisan, patung dan sebagainya. Selain menyelamtkan aset, juga bisa menambah pendapatan dan menambah potensi wisata. Target pengunjungnya itu wisatawan dari luar Provinsi Riau hingga wisatawan manca negara,” sambungnya.

Pekanbaru saat ini juga memiliki Pasar Budaya yang terletak di Jalan Ahmad Yani yang terletak di Kecamatan Senapelan. Pemerintah juga mengubah pusat oleh-oleh di Jalan HR Soebrantas menjadi pusat penjualan batu akik. (adv, kec limapuluh, kominfo)