Mahasiswa Unilak Tuntut Konsulat Malaysia Klarifilasi Perusahaan Pembakar Lahan

0
33

PEKANBARU (AmiraRiau.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Provinsi Riau telang menimbulkan banyak kerugian. Banyak warga Provinsi Riau memderita berbagai penyakit ringan hingga ISPA.

Dari data yang dipantau AmiraRiau.com dalam situs Badan MeteOrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat ini di lahan yang terbakar mencapai 150 lokasi di Riau dengan luas 7071 hektar yang dihitung secara manual.

Tak pelak hal ini mengakitabkan Provinsi Riau diselimuti kabut asap yang membahayakan kesehatan. Hingga berdirinya berbagai posko kesehatan untuk menanghulangi bencana ini.

Menyikapi hal itu, sejumlah mahasiswa Universitas Lancang Kuning mendatangi Kantor DPRD Provinsi Riau Jalan Sudirman Pekanbaru untuk berorasi terkait kabut asap pada Senin (23/9/2019).

Muklis selaku koordinasi lapangan mengorasikan pernyataan sikap, antara lain :
1. Mengutuk keras sikap Pemko Pekanbaru yang terkesan tidak peduli dengan masyarakat Riau yang terkena bemcana kabut asap.
2. Mendukung dan mengapresiasi pemerintah pusat dan mengajak semua komponen masyarakat Riau untuk bahu-membahu memadamkan titik api.
3. Mendesak pemerintah pusat dan daerah untukenghukum seberat-beratnya pelaku pembakaran lahan.
4. Mengajak masyarakat Riau untuk memjaga lingkungan agar tidak terjadi kebakaran lahan dan hutan.
5. Mendesak pemerintah daerah untuk proaktif dalam upaya pencegahan dan pemadaman.
6. Memdesak konsulat Malaysia mengklarifikasi bahwa kebakaran lahan dan hutan merupakan ulah perusahaan dari Malaysia.
7. Mendesak Kapolda Riau untuk menyelesaikan penyelidikan terhadap perusahaan yang sudah disegel KLHK.
8. Mendesak DPRD Provinsi Riau untuk membentuk pansus guna menyelesaikan kasus pembakaran lahan.
9. Mendesak Ketua DPRD Provinsi Riau membubarkan pansus yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat.

“Aksi ini kami lakukan untuk mendesak pemerintah sesegera mungkin menyelesailan masalah kabut asap dan mendesak Konsulat Malaysia untuk mengklarifikasi permasalahan restorasi lahan gambut yang ditudingkan miring kepada Indonesia”, jelas Anisa Meilani, salah satu demonstran kepada amirariau.com (amira)