Inilah Kronologis Bentrokan Buruh di PT KPN Versi PUK-SPPP Rohul

0

ROHUL, AMIRARIAU.COM-Setelah terungkap aksi bentrokan buruh di PT Kencana Persada Nusantara (KPN) dari versi SPTI, dilain pihak Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan (SPPP) mengungkapkan kepada pers versi mereka.

Menurut Ketua PUK-SPPP PT KPN Desa Batang Kumu, Mangapul Simamora, kepada wartawan, Senin siang. ”Kami ke situ (ke PKS PT. KPN) mau bekerja, bukan mau menyerang. Sebenarnya bukan kami yang menyerang dulu,” ujarnya.

Mangapul menjelaskan, Senin pagi sekira pukul 06.00 WIB, pihak PUK SPPP berencana bekerja di PKS PT KPN, karena mereka tak punya pekerjaan lagi. Namun, setibanya di pintu gerbang pabrik, mereka dilempari batu oleh sekira 20 anggota Federasi Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (F-SPTI) dari dalam pabrik.

”Kami disambut batu oleh massa SPTI dari dalam gerbang, bahkan ada buruh kami (SPPP) yang mau ditabrak mobil milik anggota SPTI,” jelasnya.

”Pokoknya semua batu yang ada di jalan itu milik mereka (massa SPTI),” tambah Mangapul dan mengakui 4 anggota SPPP mengalami luka akibat kena senjata tajam dan lemparan batu saat bentrokan terjadi.

Dirinya mengakui atas kejadian itu, pihaknya menginginkan agar masalah buruh tersebut diselesaikan secepatnya oleh pihak Pemkab Rohul. Sejak lahan kerja bongkar muat di PKS PT KPN diambilalih oleh SPTI satu bulan terakhir, dapur anggota SPPP terancam tidak ”mengepul”.

”Jika dalam sepuluh hari tak selesai, maka kami akan menggugat dinas (Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rohul),” tegas Mangapul.

SPPP sudah Bekerja di PT KPN Sejak 2008

Terlepas itu, Mangapul mengungkapkan bahwa sekira 157 anggota PUK-SPPP telah bekerja di PKS PT KPN Desa Batang Kumu sejak 2008 silam, semasa PKS baru dibangun, yakni sebagai buruh bongkar batu-bata dan semen.

Namun, pada 2012, pihak FSPTI Rohul berupaya mengambilalih lahan kerja bongkar muat di PKS PT KPN. Sepanjang 2008-2012, diakui Mangapul, sedikitnya 16 kali massa SPTI menyerang anggota SPPP yang sedang bekerja.

Karena kisruh antara SPTI dan SPPP tak kunjung selesai, kerja bongkar muat diambilalih oleh Organisasi Masyarakat (Ormas) Desa Batang Kumu, tanpa diizinkan satupun bendera organisasi berkibar disana.

”Kalau semasa dipegang Ormas Batang Kumu tak masalah. Sebab semua buruh tempatan bisa bekerja,” jelas Mangapul dan menganggap SPTI yang kerap membuat masalah.

Selain itu, Mangapul mengakui bahwa selama ini pihak SPPP Rohul tak pernah diajak mediasi dalam setiap penyelesaian kisruh dengan SPTI, termasuk mediasi satu bulan lalu yang menyerahkan urusan bongkar muat di PT KPN diserahkan ke SPTI. Ia menduga, hal ini hanya permainan dari Disosnakertrans Rohul dan DPRD Rohul.

”Putusan DPRD (Rohul) itu tak kami terima. Karena tak ada wewenang DPRD memutuskan soal bongkar muat. Apalagi tidak melibatkan kami (SPPP),” tegas Mangapul dan mengatakan SPPP tak ada meneken berita acara mediasi karena memang tak diundang.

Ia berharap masalah ini diselesaikan, sehingga organisasi buruh ini bisa berjalan seperti sebelumnya. Krn SP3 sudah terdaftar di Disosnakertrans Rohul.

”Masalah ini akan diserahkan ke K-SPSI (Rohul). Seharusnya SPTI untuk bongkar muat di terminal dan pelabuhan, bukan di PKS perusahaan perkebunan,” jelas Mangapul.

Sementara, beberapa anggota PUK-SPPP mengakui mereka tak tahu siapa yang merusak sebuah mobil milik Satuan Petugas F-SPTI Rohul yang diparkir dekat gerbang PKS PT KPN.

Menurut mereka, mobil berwarna biru itu rusak setelah sebuah mobil pribadi diduga milik salah seorang anggota SPTI akan menabrak anggota PUK-SPPP. Karena kesal, mobil Satgas yang terparkir dekat gerbang menjadi sasaran amukan masa. (Yus )