HM Harris dan Talenta Kepemimpinan

HM Harris dan Talenta Kepemimpinan

TAMPILNYA HM Harris dalam jajaran elite kepemimpinan di Provinsi Riau sejak beberapa dekade terakhir membukikan satu hal: pendidikan formal bukan satu-satunya jenjang untuk mencapai posisi tertinggi di pemerintahan, setidaknya untuk tingkat kabupaten. Tanpa ditopang pendidikan formal yang tinggi sekalipun, asal didukung talenta kepemimpinan yang kuat, impian untuk menggapai puncak bukan sesuatu yang mustahil untuk diraih.

Harris bukan satu-satunya kasus serupa di Provinsi Riau. Ada sejumlah nama yang tidak berlatar belakang pendidikan akademis, yang kemudian mampu melesat ke atas, untuk kemudian dipercaya menjadi top pemimpin di tingkat kabupaten/kota, bahkan provinsi. Sebutlah, antara lain, H. Jefry Noer yang dua periode menjabat sebagai Bupati Kampar atau H. Sukarmis yang juga dua periode menjabat sebagai Bupati Kuansing (Kuantan Singingi).

Satu nama lagi yang tergolong cukup fenomenal untuk kelompok ini adalah H. Annas Maamun. Tercatat dua kali dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRD Rohil (Rokan Hilir), nama yang satu ini kemudian juga mampu membukukan dua periode menjabat bupati di daerah yang sama. Karier politik tokoh ini bahkan sempat menduduki jabatan sebagai Gubernur Riau, walau kemudian hanya ia jalani dalam hitungan bulan saja.

Berasal dari Langgam, talenta kepemimpinan Harris sudah mulai tampak sejak ia mencempungi dunia politik praktis. Bergabung bersama Golkar (Golongan Karya) kala itu, Harris kemudian dipercaya menjadi Ketua DPRD Pelalawan, yang ia jalani selama dua periode masa jabatan. Masuk ke jajaran eksekutif, Harris dipercaya menduduki jabatan sebagai Wakil Bupati Pelalawan, mendampingi (saat itu) Rustam Effendi di posisi bupati.

Ikut bertarung di ajang Pilkada Pelalawan dengan membidik kursi bupati, sementara sebagai calon wakil bupati adalah Marwan Ibrahim, pasangan ini oleh KPUD setempat dinyatakan terpilih untuk memimpin Pelalawan. Kembali ikut di pilkada berikutnya pada daerah yang sama, Harris yang berpasangan dengan Zardewan kembali dinyatakan terpilih sebagai pemenang, dan berhak memimpin Pelalawan untuk rentang waktu lima tahun.

Menilisik jejak karier Harris, baik saat berkiprah di lembaga legislatif atau eksekutif, ada satu benang merah yang bisa ditarik, yaitu Harris mampu mencapai semua target yang ia gariskan. Ia bisa meraih apa yang diinginkan, bahkan terkesan tanpa kesulitan berarti. Di dunia politik praktis, satu misal, ketika hampir semua  tokoh Golkar hanya memegang posisi sebagai ketua DPD Golkar tingkat kabupaten paling banter dua periode, posisi itu dijalankan Harris selama tiga periode masa jabatan.

Begitu kuatkah talenta kepemimpinan Harris? Untuk sementara, jawaban terhadap pertanyaan ini bisa dikatakan “iya.” Bahkan, sejumlah capaian yang berhasil diraih Harris, baik saat berkiprah di dunia politik, eksekutif atau legislatif sekalipun, ia lalui ketika “badai” begitu kuat menerjang. Harris, satu misal, sering dikait-kaitkan dengan kasus dugaan ijazah palsu, yang sampai sejauh ini belum terbukti secara hukum, dan tidak jarang pula disangkut-sangkutkan dengan kasus dugaan korupsi.

Toh Harris tetap tidak bergeming, yang tetap dengan tegar dan kokoh menapaki target-target yang telah ia gariskan– dan hebatnya lagi semua itu seakan dengan lempang saja dijalani oleh Harris. Boleh jadi ada pihak yang berpandangan sinis terhadap Harris, terlepas apapun sebabnya, tapi langkah-langkah politik Harris seakan tidak terpengaruh oleh berbagai hal yang datang dari luar.

Itu artinya, selain memiliki talenta kepemimpinan yang kuat, di mana kepemimpinannya sangat diharapkan oleh sebagian besar masyarakat tempat di mana ia mengabdi, realitas lain yang juga bisa dipastikan dalam konteks kasus Harris adalah ia memiliki jaringan massa pendukung yang luas, yang bisa saja datang dari berbagai kalangan dan sebagian besar wilayah, yang tetap merindukan kepemimpinan Harris, terlepas dari nilai plus-minus yang dimiliki.

Jaringan massa yang kuat dan luas itu tidak mungkin ada secara instan, melainkan melalui proses panjang dan berliku untuk menciptakannya. Bisa jadi Harris telah menjalinnya sejak lama dalam bentuk pengabdian yang tinggi terhadap masyarakat, yang hasilnya baru ia nikmati belakangan. Sebab, tidak banyak yang tahu apa yang dilakukan Harris sebelum terjun ke dunia politik, termasuk dalam kerangka membangun citra dan imej di tengah masyarakat.

Belakangan terbetik kabar Harris akan ikut terjun ke ajang Pilgub (Pemilihan Gubernur) Riau 2018, dimaksudkan untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2018-2023. Tak terpantau, sejauh mana langkah yang telah ditapakkan Harris untuk ikut di ajang pesta politik tingkat lokal sekali lima tahunnan itu. Tapi satu hal yang pasti, Harris memang memiliki niat yang kuat untuk ikut bertarung, dengan membidik kursi Gubernur Riau untuk rentang waktu lima tahun ke depan.

Akankah langkah Harris menuju kursi Gubernur Riau periode 2018-2023 sama mulusnya ketika ia membidik sejumlah posisi dan jabatan –baik di eksekutif atau legislatif– seperti yang ia jalani selama ini? Hanya perjalanan waktulah yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Kita tunggu saja.*** (Hj Nur Ismi *)

Previous Serunya Kumpulnya Blogger Pekanbaru
Next Yopi dan Implementasi Kerendahhatian

About author