Berselancar di Internet, Andi Hardian : Anak Terancam Kekerasan Seksual

0

JAKARTA (AmiraRiau.com) – Indonesia termasuk pemakai intetnet terbesar di dunia dan 80 persen diantara pemakai adalah anak -anak. Internet telah digunakan untuk mengejar ketertinggalan di dunia pendidikan. Tapi juga harus diingat, ada sisi negatif didalamnya.

“Internet mengurangi tingkat komunikasi pada anak-anak dan rentan terjadi kekerasan seksual terhadap anak-anak,” kata Andy Hardian, Program Manager ECPAT Indonesia.

Bicara sebagai narasumber dalam Webinar yang dilaksanakan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Rabu (29/7/2020), dengan tema “Melindungi Anak dari Dampak Negatif Gadget di Masa Pandemik” Andi menyatakan, survei KPAI tahun 2020 menyebutkan, 79 persen orang tua membolehkan anak memakai gawai dan 71,3 persen anak punya gadget sendiri.

“Artinya, resiko terhadap anak lebih tinggi. Selain kekerasan seksual anak juga rentan mengalami bullying dan pornografi,” kata Andi.

Karena itu anak harus didampingi dan ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan orang tua, sehingga anak akhirnya bisa bermain gawai dengan aman dan nyaman.

“Tahapan Ini penting untuk membuat kepercayaan diri anak tumbuh sehingga tidak gampang terjerat kejahatan online saat mereka bersilancar di dunia maya sendirian,” ujar Andi.

Menurut Andi, orang tua juga harus menyadari bahwa pornografi anak di dunia online adalah salah satu bentuk kejahatan. Jika menemukan sebaiknya segera laporkan linknya.

Biasanya pelaku sengaja berinteraksi di internet dengan anak, karena anak juga ingin berinteraksi dengan banyak orang.Pelaku membangun sedemikian rupa kepercayaan anak terhadap mereka, sampai akhirnya mau melakuka hal-hal yang bersifat pornografi.

“Misalnya mengirimkan foto atau video diri yang bersifat amat pribadi dan nanti justru digunakan pelaku kejahatan untuk memeras anak,” ujar Andi.

Jadi kata Andi, orang tua harus membuat anak memahami bahwa dia sedang digiring ke arah kejahatan seksual online dengan mendampingi anak secara benar.

Andi juga menyatakan, sebetulnya ada akun yang memang aman untuk anak-anak dan orang tua bisa memulai dari sini, sampai kepercayaan anak terbentuk.

“Ada google interland yang bagus untuk anak usia TK dan awal SD. Ada pula messenger kids. Sebaiknya anak di bawah usia 16 tahun jangan dulu pakai WA. Jadi selain orang tua, pihak sekolah juga harus memikirkan hal ini,” kata Andi.

Sementara itu Putu Elvina dari KPAI menyatakan, banyak orang tua belum disiplin terhadap anaknya. Membiarkan anak berjam-jam di depan gawai. Akibatnya anak kehilangan analisa.

“Analisis anak tak tajam karena mereka cenderung copy past. Kritis anak-anak juga kurang,” kata Elvina.

Menurut Elvina, perlu literasi digital untuk orang tua. Selain itu juga butuh proteksi seperti Undang-Undang.

“Jangan kita bebas lalukan aktifitas di online tapi banyak orang yang terganggu. Perlu aturan bagaiman anak bergawai dengan baik,” kata Elvina.***/zie