54,6 Juta Orang Belum Terdaftar BPJS Kesehatan, Kebanyakan Kaum Muda

0
4

Jakarta, AmiraRiau.Com-Studi yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengenai Universal Health Coverage in Indonesia atau program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) menemukan beberapa permasalahan dari sistem ini. Salah satunya, masih banyak penduduk yang tidak ikut serta dalam JKN-BPJS.

“Permasalahan yang ditemukan adalah adanya kelompok menengah yang hilang atau middle missing yakni hanya 52 persen orang yang terdaftar pada usia 20-35 tahun. Padahal, usia ini biasanya tidak akan sakit dalam waktu dekat,” kata dr Rina Agustina, MSc, PhD, ketua peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saat dijumpai di Aula FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2018), sebagaimana dilansir detikhealth.

Penelitian menemukan sekitar 54,6 juta orang termasuk dalam middle missing atau kelompok yang mampu membayar tetapi tidak memiliki keinginan untuk menjadi anggota. Kebanyakan dari mereka adalah kaum milenial yang masih berusia muda.

Banyak anak muda yang masih terlampau acuh dengan sistem yang ada. Hal ini menyebabkan mereka masih belum menjadi anggota dalam JKN-BPJS.

“Riset menemukan hal ini bukan karena masalah iuran, tapi layanannya oke apa nggak, jadi lebih kepada ketersediaan layanan,” tutur Teguh Dartanto, Phd, Kepala Departmen Ekonomi Fakultas Indonesia yang juga turut ambil bagian dalam penelitian ini.

Baca juga: Ketentuan Baru, Bayi Baru Lahir Wajib Didaftarkan BPJS Kesehatan

Selain itu, alasan lain enggan bergabung karena kurangnya pemahaman tentang premi asuransi yang dicanangkan oleh JKN-BPJS ini.

“Banyak yang di survey bilang kalau tidak dipakai uangnya bisa diambil lagi atau tidak. Ini kan konsepnya jadi tercampur aduk antara konsep tabungan dan asuransi,” tambahnya.

Teguh, sapaannya, melanjutkan hal ini menjadi menarik untuk mendorong milenial lebih peka terhadap isu kesadaran mengenai asuransi sosial.

“Sampai sekarang memang peneliti belum bisa menemukan alternatif untuk memengaruhi milenial menjadi peka terhadap isu JKN. Ini menjadi tantangan karena bagaimanapun juga milenial menjadi tameng terkuat kita, karena mereka yang sehat.

Ketika yang sehat bergabung maka diharapkan bisa memperbaiki sisi keberlangsungan dari program JKN,” tutupnya. (e2)

(sumber foto: detikhealth)