40 Persen Anggaran Tersedot untuk Farmasi, Direktur RSUD Arifin Ahmad Lakukan Perubahan Layanan

Direktur RSUD Arifin Achmad drg Wan Fajriatul Mamnunah Sp.KG

PEKANBARU, AmiraRiau.com – Sebagai rumah sakit pemerintah dan juga pusat rujukan di Provinsi Riau. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad (AA) menggunakan dua pola pembiayaan dalam operasionalnya, yakni bersumber dari APBD Riau dan juga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Direktur RSUD Arifin Achmad drg Wan Fajriatul Mamnunah Sp.KG mengatakan, dari anggaran yang tersedia di RSUD tersebut. Hampir 40 persen terserap instalasi farmasi, karena itu instalasi farmasi ini cukup banyak mendapatkan perhatian terutama dari pihak auditor.

“Selain itu, item yang dikelola isntalasi farmasi itu jumlahnya juga mencapai jutaan. Hal ini tentunya juga menjadi permasalahan, sehingga perlu dipikirkan inovasi apa yang akan dibuat untuk memudahkan instalasi farmasi dalam bekerja,” katanya, Jumat (5/7/2024)

Diakui drg Wan Fajriatul, diinstalasi farmasi sebelumnya juga sudah memiliki aplikasi. Namun, aplikasi tersebut masih belum sempurna sehingga tidak bisa dimaksimalkan, oleh karenya, ia menginisiasi proyek perubahan Sistem Informasi Pengelolaan Persediaan Farmasi RSUD Arifin Achmad (SIFARMAA).

Oleh karena itu saya akan mengoptimalkan aplikasi yang ada melalui proyek perubahan agar aplikasi yang ada lebih efektif, efisien dan akuntabel sebutnya.serta merumuskan buku pedoman pengelolaan perbekalan farmasi diharapkan menghasil kan tata kelola persedian farmasi lebih baik lagi sehingga resiko komplain pasien karena stok obat kosong bisa teratasi.

Karenanya, melalui proyek perubahan ini, ia sebagai pimpinan RSUD Arifin Achmad akan mengoptimalkan sistem yang sudah ada sebelumnya di instalasi farmasi. Dalam pengoptimalan sistem informasi yang ada tersebut, pihaknya mengambil isu strategis yakni terkait efektivitas dan efisiensi pengelolaan persediaan farmasi dengan optimalisasi sistem informasi terintegrasi melalui SIFARMAA.

“Nantinya dengan aplikasi ini bisa terdata persediaan farmasi dan yang sudah didistribusikan ke pasien. Karena itu dengan adanya SIFARMAA ini kita mulai membenahi diri, karena saya tahu beban pekerjaan di setiap unit itu banyak. Karena kalau kita sudah disiplin menggunakan sistem ini, dan kita juga sudah memiliki bank data maka kedepannya akan dikembangkan lagi menggunakan Artifical Intelligence (AI),” ujarnya.

Dengan pengambangan tersebut, diharapkan nantinya data-data terkait stok obat, obat apa yang paling banyak digunakan akan mudah untuk diketahui. Karena itu tahap awal ini menurutnya yang penting dilakukan yakni penginputan data.

“Memang diawal terasa agak sulit, namun nanti tujuannya kedepan adalah memudahkan teman-teman semua dalam bekerja membuat laporan,” katanya. ***

Penulis: MCR, Editor: Alseptri Ady

Menampilkan Gambar dengan HTML gambar